Apa itu Manajemen Bandwidth ? 

Manajemen Bandwidth adalah istilah umum yang diberikan untuk sekumpulan tools dan teknik yang dapat digunakan oleh suatu institusi untuk mengurangi kebutuhan kritikal dari suatu segmen jaringan. Seringkali manajemen bandwidth diterapkan pada segmen WAN yang menghubungkan institusi ke internet yang lebih besar. Ini juga dapat diterapkan pada segmen internal yang juga bersifat kritikal, seperti segmen yang menghubungkan ruangan-ruangan kampus ke seluruh jaringan. CIO Magazine telah menerbitkan sebuah artikel gambaran yang baik tentang manajemen bandwidth berjudul "Trailblazers Bandwidth" [1].


Beberapa isu teknis terkait teknologi pada manajemen bandwidth:
-1- Kompresi data, untuk mengurangi ukuran data yang harus ditransmisikan.
-2- Caching lokal, untuk menyimpan data yang sering digunakan secara lokal, bukan mengirimkannya dalam beberapa kali.
-3- Prioritas bandwidth, mengalokasikan bandwidth berdasarkan pentingnya aplikasi.
-4- Konten terdistribusi, untuk memindahkan isi dari satu lokasi ke beberapa lokasi yang lebih dekat dengan pengguna akhir.
-5- Blocking lalu lintas data yang tidak sah (unauthorized traffic).
-6- Paket akuntansi internet (internet accounting packages), untuk melacak penggunaan bandwidth dan menagih pembiayaan penggunaan layanan terkait kepada pelanggan (pay per use, umum digunakan di universitas-universitas di Australia).
-7- Sarana pendidikan bagi pemakai, untuk mendidik pengguna tentang konsekuensi dari tindakan mereka dan meyakinkan mereka untuk menjadi warga negara yang baik di jaringan yang mereka pakai secara bersama.
Beberapa Produsen Utama Produk Manajemen Bandwidth.
Vendor manajemen bandwidth yang saat ini eksis di pasar meliputi:
-1- SR-50 Sequence Reducer dari Peribit Networks, melakukan kompres data dengan menghilangkan pengulangan menggunakan teknologi Sequence Molecular Pengurangan (MSR) [2].
-2- ACCELERATORs dari Expand Networks mengkombinasikan antara teknik kompresi data, caching, dan prioritas [3].
-3- NetEnforcer dari Allot Communications menggunakan prioritas bandwidth, dan menggunakan caching untuk CacheEnforcer mereka [4].
-4- PacketShaper dari Packeteer menggunakan skema prioritas bandwidth untuk memonitor, memblok, dan pencekikan bandwidth (bandwidth throttle) [5].
-5- AcceleNet dan Xpress Suite dari Intelligent Compression Technologies menggunakan kompresi data [6]. -6- EdgeSuite dari Akamai mendistribusikan konten ke jaringan server global [7].
-7- L7 Solution dari Sistem Akonix mendeteksi dan memblok protokol yang tidak dikehendaki pada jaringan EDGE (koneksi internet yang disediakan oleh provider kartu telepon) [8].
-8- PacketHound dari Palisade Systems menggunakan skema prioritas bandwidth untuk memonitor, memblok, dan pencekikan bandwidth (bandwidth throttle) [9].
-9- Traffic Edge dari Inktomi mengkombinasikan strategi caching dan filtering [10].
-10- Internet Management System dari Digiquant melakukan internet accounting dan billing kepada pengguna akhir [11].
-11- Technologies Hub dari Hansen melakukan internet accounting dan billing kepada pengguna akhir [12].
Pentingnya Manajemen Bandwidth pada Institusi Pendidikan Tinggi.

Sebuah jaringan kampus yang solid dan didukung konektivitas internet yang baik tidak lagi menjadi barang mewah bagi sebuah institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah kebutuhan. Para mahasiswa, termasuk para orang tua mereka mempertimbangkan akses yang baik ke sumber daya jaringan sebagai faktor dalam menentukan institusi mana yang akan mereka pilih. Ini berdampak baik pada rekrutmen maupun retensi. Semakin banyak mahasiswa yang datang ke perguruan tinggi berharap bahwa jaringan yang ada di sana akan memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, tetapi selain itu mereka juga berharap akan ketersediaan layanan hiburan bagi mereka. Pihak kampus ingin faktor-faktor ini terakomodir ke dalam sistem pembuatan keputusan mereka, dalam bentuk dukungan terhadap skema prioritas, bukan skema pemblokiran. Dilihat dari perspektif manajemen dan hubungan masyarakat, lebih baik melakukan pembatasan terhadap lalu lintas hiburan daripada memblok secara sepenuhnya. Beberapa produk manajemen bandwidth memungkinkan untuk meningkatkan lalu lintas hiburan saat lalu lintas bisnis rendah.
Seperti halnya layanan video dan suara yang juga berpindah ke jaringan, pengelolaan bandwidth untuk penyediaan kualitas layanan terhadap aplikasi peka waktu (time-sensitive applications) menjadi lebih penting. Penelitian mengenai kebutuhan bandwidth juga terus berkembang. Proyek penelitian mutakhir, seperti SETI@home [13], UCSC Genome Bioinformatics [14], atau Mars Exploration [15], memanfaatkan sekelompok besar perangkat jaringan untuk perhitungan masif atau untuk melakukan distribusi data set yang besar melalui situs mirror. The Access Grid [16] mendukung interaksi manusia melalui high-end audio dan video. Semua aplikasi ini merupakan aplikasi dengan tingkat kebutuhan bandwidth yang tinggi.
Bila dibandingkan dengan masa lalu, hari ini kita dapat membeli bandwidth dengan dana yang lebih sedikit. Dan kemungkinan besar tren ini akan terus berlanjut. Walau demikian, hanya dengan membeli lebih untuk memenuhi meningkatnya permintaan bandwidth sering dianggap tidak praktis. Lingkungan dan aplikasi untuk melakukan komputasi peer-to-peer [17] seperti Napster, Kazaa, Audio Galaxy, Gnutella dan Torrent berujung pada kebutuhan bandwidth yang lebih besar daripada penyediaan yang sanggup perguruan tinggi dan universitas bisa adakan. Setiap kampus, dalam melakukan strategi manajemen bandwidth, harus memutuskan kapan biaya investasi akan lebih murah daripada membeli bandwidth lebih. Salahnya strategi dalam investasi manajemen bandwidth maupun pembelian bandwidth beresiko membuat jaringan kampus menjadi macet, menuju titik di mana tidak ada pengguna yang dilayani dengan baik.
Saat Dimana Manajemen Bandwidth Menjadi Penting di Kampus.
Manajemen bandwidth menjadi penting ketika biaya yang diperlukan untuk menambah bandwidth yang sesuai kebutuhan melebihi biaya investasi teknologi manajemen bandwidth. Berharaplah ini segera terjadi pada kampus anda bila belum. Beberapa kampus, yang biasanya lebih kecil, dapat melakukan pendekatan kepada para mahasiswa, fakultas, dan staf untuk menjadi warga negara yang baik. Pendekatan ini memang efektif untuk sementara waktu, tergantung pada nilai-nilai komunitas kampus. Kampus lain, dengan staf yang lebih banyak, kadang-kadang bisa membayar waktu staf untuk melacak pengguna bandwidth yang berlebihan dan mendorong atau mendisiplinkan mereka secara langsung untuk mengontrol masalah. Tool manajemen bandwidth terotomasi bekerja dengan baik, dan cukup layak secara finansial, ketika teknik-teknik lainnya tidak lagi memadai untuk memecahkan masalah. Jangan menunggu sampai jaringan kampus Anda pada terengah-engah sebelum anda mulai mengeksplorasi pilihan anda.
Perkembangan Manajemen Bandwidth.

Tool manajemen bandwidth yang efektif harus berkembang cepat untuk tetap eksis di depan aplikasi yang dirancang untuk mereka kontrol. Upaya awal untuk mengelola bandwidth termasuk memblokir port tertentu pada router kampus, tapi pengembang aplikasi dapat dengan cepat belajar untuk mengubah port. Aplikasi lain menyamarkan data yang harus dibatasi menjadi data yang dianggap prioritas utama. Tool manajemen bandwidth harus selalu ditingkatkan untuk berada di depan para pengembang.
Tool manajemen bandwidth juga berkembang untuk menangani pipa yang besar dan lebih besar lagi. Sebuah riset di sebuah universitas di USA telah menginvestigasi PacketShaper dari Packeteer pada bulan Januari 2002. Produk tersebut bisa mengelola link DS3 milik universitas tersebut ke kampus utama yang mereka miliki di Minneapolis / St. Paul, tapi tidak bisa mengelola pipa OC3 dari kampus utama ke Internet. Sekarang PacketShaper dapat mengatur hingga 200 MB, sehingga dapat mengelola OC3 tersebut, tetapi tidak dapat mengelola OC12 yang lebih besar dan pipa OC48 yang beberapa kampus gunakan. Dalam waktu dekat bisa dipastikan akan keluar produk baru untuk menangani pipa-pipa yang lebih besar.
Tool-tool ini juga berkembang untuk dapat menerapkan aturan manajemen yang berbeda untuk berbagai kelompok pengguna di jaringan kampus. Beberapa produk dapat menerapkan aturan yang berbeda untuk VLAN berbeda. Melihat trend kebutuhan ini, akan ada evolusi dari tool-tool ini yang memungkinkan pengaturan ke setiap perangkat milik individu pada jaringan.

Isu-Isu Terkait Penerapan Manajemen Bandwidth.

Unit TI pada kampus yang siap menerapkan manajemen bandwidth harus mengembangkan rencana komunikasi untuk kampus. Dibutuhkan penjelasan ke kampus apa yang anda lakukan dan mengapa. Bersiaplah untuk menjelaskan bagaimana pendekatan anda dalam meminimalkan dampak terhadap kebebasan akademik dan menghindari sensor. Tekankan pentingnya memberi semua pengguna akses yang adil terhadap sumber daya serta memastikan akses yang lebih baik terhadap sumber daya yang lebih penting bagi misi kampus.
Para mahasiswa akan ingin tahu mengapa anda campur tangan terhadap akses hiburan mereka jika anda kembali membatasi akses aplikasi peer-to-peer yang mendukung file audio dan video swapping. Ingatlah bahwa ini bisa menjadi masalah retensi, tapi masalah retensi lain yang tak kalah pentingnya adalah akses ke sumber daya pendidikan dan biaya pendidikan. Jika anda memang melemparkan lebih banyak uang untuk menambahkan bandwidth untuk mendukung aplikasi hiburan secara tidak terbatas, itu akan mengarah kepada peningkatan biaya pendidikan mahasiswa. Jika anda mengizinkan akses tak terbatas pada aplikasi hiburan dengan bandwidth yang terbatas, siswa tidak akan mampu mencapai materi sumber daya pendidikan yang sah. Pada kampus trersebut di atas, telah terbukti fakta bahwa aplikasi yang bersifat membatasi lebih cocok untuk para mahasiswa daripada memblokir. Mereka diberi keyakinan bahwa ketika bandwidth tidak digunakan untuk pendidikan dan aplikasi bisnis, bandwidth tersebut disediakan untuk hiburan. Bahkan pejabat CIO di lingkungan kampus tersebut secara pribadi meluangkan waktu untuk memberikan jawaban langsung kepada mahasiswa yang mempertanyakan dan mengkritik apa yang pihak kampus lakukan. Beberapa menjadi marah, akan tetapi yang lain tumbuh untuk menerima pendekatan yang telah dilakukan kampus ketika diberikan informasi lebih lanjut. Lihat [18] untuk contoh komunikasi. Surat kabar mahasiswa kampus tersebut juga telah menulis sebuah artikel tentang subjek ini [19]. Selain semua referensi tersebut di atas, terdapat juga definisi umum mengenai manajemen bandwidth pada Wikipedia [20].
Penerapan Manajemen Bandwidth di Lingkungan Korporat.

Menerapkan manajemen bandwidth di lingkungan korporat terbagi atas dua aspek, yakni aspek internal dan eksternal. Aspek internal meliputi pengaturan pemakaian bandwidth untuk keperluan internal itu sendiri, sedangkan aspek eksternal meliputi pengaturan pemakaian bandwidth untuk menjaga “keseimbangan” antara keterbatasan infrastruktur yang didukung oleh pendanaan yang relatif terbatas dengan tingkat kepuasan pengguna akhir sebagai konsumen.
Kedua aspek tersebut berujung pada efisiensi dan efektifitas kerja lingkungan korporat itu sendiri. Efektif dalam artian pendanaan yang relatif memiliki tingkat prioritas yang lebih rendah dapat direlokasi ke pengembangan infrastruktur, sehingga akselerasi dalam proses ekspansi bisnis dapat dilakukan. Efisien dalam artian dengan alokasi pendanaan yang sama, kualitas capaian bisa lebih optimal. Bila memungkinkan malah bisa dimaksimalkan dengan pola-pola bisnis tertentu yang sudah terbukti.

Kesimpulan.
Penerapan manajemen bandwidth memungkinkan kita untuk memberikan prioritas yang tepat untuk lalu lintas jaringan terkait pendidikan dan bisnis, sementara pada saat yang sama memungkinkan lalu lintas hiburan pada tingkat prioritas yang lebih rendah. Link DS3 milik kampus ke internet kini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kampus, dimana tanpa manajemen bandwidth akan benar-benar menjadi kelebihan beban (overload). Manajemen bandwidth akan menghemat alokasi pendanaan untuk bandwidth, yang dapat dialokasikan untuk memberikan akses jaringan yang lebih baik dan lebih sesuai.

Situs Referensi.

-1- Levinson, M.(2002), “Bandwidth Trailblazers,” CIO Magazine, March 1, 2002, http://www.cio.com/archive/030102/et_article.html
-2- Peribit Networks at http://www.peribit.com/
-3- Expand Networks at http://www.expand.com/
-4- Allot Communications at http://www.allot.com/
-5- Packeteer at http://www.packeteer.com/
-6- Intelligent Compression Technologies at http://www.ictcompress.com/
-7- Akamai at http://www.akamai.com/
-8- Akonix Systems at http://www.akonix.com/
-9- Palisade Systems at http://www.palisadesys.com/
-10- Inktomi Corporation at http://www.inktomi.com/
-11- Digiquant at http://www2.digiquant.com/
-12- Hansen Technologies at http://www.hancorp.com.au/
-13- SETI@home at http://setiathome.ssl.berkeley.edu/
-14- UCSC Genome Bioinformatics at http://genome.ucsc.edu/
-15- Mars Exploration at http://mpfwww.jpl.nasa.gov/
-16- Access Grid at http://www-fp.mcs.anl.gov/fl/accessgrid/
-17- Rutherford, E.(2000), “The P2P Report,” CIO Magazine, July 12, 2000, http://www.cio.com/research/knowledge/edit/p2p_content.html
-18- Campus communication example, http://www.d.umn.edu/itss/news/articles/02-0125-bandwidth.html
-19- Watson, M.(2002), “U limits ‘recreational use’ internet computing,” UMD Statesman, February 14, 2002, http://www.d.umn.edu/statesman/archives/021402/story9.htm
-20- Bandwidth management at Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Bandwidth_management

Sesi Terkait pada Educause 2002.

-1- Educause 2002 Track Session: It’s Their Bandwidth…Let Them Decide
Track 2, Thursday, October 3, 3:55 p.m. – 4:45 p.m., B303.
-2- Educause 2002 Constituent Group: Net Improvement
Wednesday, October 2, 12:40 p.m. – 2:10 p.m., B301. http://www.educause.edu/memdir/cg/netimprov.html
-3- Educause 2002 Constituent Group: Network Management.
Thursday, October 3, 4:55 p.m. – 6:10 p.m., B215 http://www.educause.edu/memdir/cg/netman.html



Sumber: Ragam referensi on-line. / Arief Sartono-IPTEKn
 
Berbagi Pengetahuan © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top